Kamis, 21 Oktober 2021

Manajemen Marketing - Forum 2 : Marketing 4.0



Adanya pandemi Covid-19 menyebabkan perubahan beberapa perilaku konsumen, salah satunya bisa kita lihat dalam hal cara konsumen berbelanja dan mengkonsumsi barang. Saat ini konsumen lebih memilih berbelanja secara online. Kalaupun dilakukan secara offline, konsumen akan lebih memilih berbelanja di toko yang lokasinya dekat dengan rumah. Selain itu, frekuensi belanja cenderung berkurang. Konsumen akan mengurangi frekuensi belanjanya, namun lebih ke memperbanyak porsi belanjaan dari biasanya. Jika dilihat dari barang yang dikonsumsi, terjadi perubahan prioritas dalam memilih apa yang akan dikonsumsi. Pengeluaran tidak wajib cenderung menurun, termasuk salah satunya konsumsi hiburan. Dibanding ke bioskop, konsumen akan lebih memilih hiburan melalui platform streaming. Konsumen juga lebih memilih media digital dalam memperoleh informasi. Selanjutnya, salah satu perubahan yang sangat terasa di antara kita adalah perubahan gaya hidup. Saat ini, konsumen lebih fokus dalam mengutamakan kesehatan dan kebersihan, sehingga hal ini berdampak positif terhadap penjualan produk kesehatan, produk organik dan produk alami.

Perubahan beberapa perilaku konsumen membuat para pelaku usaha harus dapat menyesuaikan dalam hal pemasaran dan penjualan. Pemasaran oleh para pelaku usaha dilakukan secara digital sejalan dengan perkembangan era marketing 4.0, dimana para konsumen telah mengalami lima tahapan yang disebut 5A (Aware, Appeal, Ask, Act, dan Advocate). Tahap Aware berbicara mengenai bagaimana konsumen mengenal suatu produk atau brand, diikuti dengan tahap Appeal ketika konsumen mulai tertarik dengan produk atau brand tersebut. Di tahap selanjutnya, konsumen akan berusaha untuk mencari tahu lebih dalam mengenai produk atau brand terkait (Ask). Jika informasi yang diperoleh berhasil meyakinkan konsumen, maka ada kemungkinan konsumen akan melakukan pembelian (Act). Belum berhenti sampai di situ, jika konsumen merasa puas terhadap produk atau jasa yang dibeli, maka ia akan merekomendasikan produk atau layanan tersebut kepada orang lain (Advocate). Lima tahapan tersebut terjadi ketika para pelaku usaha memanfaatkan e-marketplace, e-marketspace dan media sosial dalam hal memasarkan dan menjual produk/jasanya kepada para konsumen, dimana hal ini merupakan langkah yang sangat adaptif terhadap perubahan perilaku konsumen saat terjadi pandemi Covid-19 seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.


Manajemen SDM - Forum 1 : “Desa BUMA” untuk Tim Kerja yang Kohesif

 

PT BUMA merupakan salah satu perusahaan kontraktor jasa pertambangan batubara di Indonesia. Berdasarkan data evaluasi ESDM mengenai kecelakaan tambang berakibat fatal pada tahun 2019, terdapat dua faktor utama yang menjadi penyebab kecelakaan tersebut, yaitu faktor pribadi dan faktor pekerjaan. Faktor pribadi didominasi karena kurangnya pengetahuan dan motivasi yang keliru. Sedangkan untuk faktor pekerjaan didominasi karena kurangnya kuantitas dan kualitas kepemimpinan dan kepengawasan. Beberapa faktor tersebut melatarbelakangi perusahaan melakukan transformasi untuk membangun anggota tim kerja yang lebih kompeten dan professional serta membangun budaya yang lebih kohesif di tim kerja garis depan (frontline), terutama antar sesama operator produksi dan operator produksi dengan pengawas. Transformasi tersebut diimplementasikan perusahaan dalam bentuk program “Desa BUMA”.

“Desa BUMA” adalah sekelompok individu yang saling berinteraksi dengan frekuensi intens dan memiliki ketergantungan satu sama lain untuk mencapai beberapa tujuan berikut :

  • Meningkatkan kelekatan emosi antar sesama operator produksi dan operator dengan pengawas
  • Membentuk kelompok kerja untuk membangun budaya kerja yang aman
  • Mengoptimalkan produktivitas pengawas dan operator

Terdapat beberapa komponen penting dalam “Desa BUMA” yaitu :

  • Struktur “Desa” yang beranggotakan Kepala Desa (Supervisor), Ketua RT (Pengawas) dan Warga (10-15 orang Operator Produksi). Jumlah Desa di setiap site BUMA tergantung dari jumlah operator produksinya
  • Pengelompokkan/Grouping untuk area kerja dan mess tempat tinggal sesuai dengan “Desa”-nya masing-masing

Dan berikut beberapa aktivitas yang dilakukan selama implementasi program “Desa BUMA” :

  • Pelatihan kepada Kepala Desa & Ketua RT mengenai Leaders Mindset, Communication Skill (Active Listening, Powerful Question, Assertive Communication, Crucial Conversation) dan Coaching Skill (sampai dengan penugasan misi)
  • Sarasehan perangkat dan warga “Desa BUMA” baik langsung maupun secara virtual, tema obrolan santai berupa sharing pengetahuan safety dari warga, update informasi perusahaan dari kepala desa sampai dengan merencanakan kegiatan untuk penyaluran hobi
  • Coaching for improvement setiap bulan dari Ketua RT (Pengawas) kepada warga desa (operator produksi) untuk membangun komitmen dari warga desa dalam meningkatkan safety dan produktivitas
  • Gamifikasi Desa, yaitu elemen permainan dan desain teknik permainan untuk mendorong pencapaian performa melalui proses penguatan tim kohesi di dalam desa. Poin dalam gamifikasi setiap desa dapat di-redeem dengan merchandise menarik


Manajemen Marketing - Forum 1 : Permasalahan Marketing yang dialami diperusahaan

 


Saya bekerja di salah satu kontraktor jasa pertambangan batubara di Indonesia, yang bekerjasama dengan beberapa big customer seperti PT Adaro Indonesia, PT Berau Coal dan PT Bayan Resources. Seluruh kontrak kerja dengan customer disepakati oleh jajaran direksi kami di Head Office. Tugas kami yang berada di Jobsite hanya berfokus pada customer satisfaction sesuai dengan target yang telah disepakati dalam kontrak tersebut, salah satunya adalah performa safety. Beberapa tahun yang lalu di salah satu jobsite kami, secara berturut-turut selama 3 tahun mengalami kejadian kecelakaan fatal. Hal ini yang menjadi latar belakang customer melakukan pemutusan kontrak beberapa area kerja karena perusahaan kami dianggap tidak serius dalam program pencegahan kecelakaan. Setelah melihat kejadian ini, perusahaan kami melakukan "Rebranding" besar-besaran untuk mengembalikan kepercayaan customer terkait safety dengan cara menjalankan beberapa program diantaranya SAHABAT SHE, ZERO ACCIDENT MINDSET dan GENBA ON THE FIELD. Dalam beberapa tahun program ini dijalankan dan terbukti secara efektif dapat mencegah terjadinya kecelakaan fatal di tempat kerja kami. Setelah penantian panjang selama 7 tahun akhirnya perusahaan kami berhasil kembali mendapatkan kepercayaan customer berupa kesepakatan kontrak penambahan area kerja dengan kenaikan volume produksi yang sangat signifikan dari sebelumnya.


Selasa, 31 Agustus 2021

Kamu Sudah Siap Jadi Pengusaha? Siapkan Dulu Mentalmu !

Banyak orang beranggapan bahwa untuk jadi pengusaha maka harus siapkan modal finansial yang besar. Orang yang memiliki finansial terbatas dianggap tidak akan bisa mengembangkan bisnisnya. Faktanya tidak demikian, orang dengan mental kuat, walaupun dengan finansial terbatas akan lebih mudah mengatasi semua masalah yang dia hadapi selama menjalankan bisnisnya.

Banyak sekali orang di sekeliling kita, yang semula seorang karyawan sebuah perusahaan kemudian ingin beralih menjadi seorang pengusaha hanya karena melihat kekayaan materi dari para pengusaha sukses tanpa mengikuti perjalanan hidupnya dari nol sampai bisa sesukses sekarang. 

Karyawan dan Pengusaha jelas sangat berbeda. Seorang karyawan akan memperoleh gaji bulanan secara rutin setelah menjalankan tanggungjawabnya di perusahaan, sedangkan seorang pengusaha akan menggaji dirinya sendiri, kecil & besar sepenuhnya tergantung dari usaha dia sendiri dalam mendatangkan pelanggan. Perubahan besar ini yang harus disiapkan secara matang oleh semua karyawan yang ingin beralih menjadi pengusaha. Perubahan dari zona nyaman menjadi zona yang penuh ketidakpastian, bahkan dalam masa merintis bisnisnya, seorang pengusaha akan sangat mungkin menghabiskan waktunya jauh lebih lama dalam sehari dari para karyawan.


Secara psikologis ada perbedaan yang sangat mencolok antara mereka yang bermental karyawan dan mereka yang sudah siap menjadi pengusaha :

Siap Mental

1. Persuasif : lebih mengedepankan pendekatan sosial ketimbang memaksakan sesuatu ke orang lain

2. Oportunis : bisa memanfaatkan kesempatan bahkan yang paling kecil

3. Proaktif : mampu berpikir dan bertindak mandiri tanpa menunggu langkah orang lain

4. Bermental juara : selalu mengejar peringkat pertama dan bisa bangkit ketika dilanda masalah

5. Pola pikir berkembang : apa pun yang dialami dijadikan pijakan untuk melompat lebih tinggi dan mengembangkan diri

Nggak siap mental

1. Yang penting cepat dapat uang : jadi pengusaha bukan hanya mencari profit materi dalam satu waktu, melainkan kesinambungan pemasukan dalam jangka panjang

2. Gampang goyah : bila gak punya prinsip, wajar bila sikap sering berubah-ubah tergantung bisikan atau paksaan pihak lain

3. Ingin terus nyaman : sekali memutuskan jadi pengusaha, berarti siap keluar dari zona nyaman ala pegawai bergaji bulanan

4. Pola pikir kaku : gamang menghadapi saran, kritik, dan tantangan dari pihak lain

Jadi jika kamu merasa sudah siap jadi pengusaha? Siapkan dulu mentalmu !


Referensi : 

1. https://www.lifepal.co.id

2. https://www.shutterstock.com


Kamis, 26 Agustus 2021

4 Cara Menghasilkan Pendapatan (Teori Cashflow Quadrant)

Kuadran E – Employee

Huruf ‘E’ melambangkan kata Employee dalam bahasa Inggris yang berarti karyawan atau pegawai. Mereka merupakan orang-orang yang bertumpu pada pendapatan tetap hasil kerjanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kuadran S – Self-employed Business

Mereka yang termasuk dalam kuadran S lebih berani mengambil risiko dengan memiliki atau menjalankan usahanya secara mandiri, tetapi bisnis tersebut tidak dapat dilepas dan bekerja dengan sendirinya. Melainkan butuh turun tangan langsung dari pemiliknya.

Kuadran B – Business Owner

Mereka yang termasuk dalam kuadran B yaitu pemilik perusahaan dengan jumlah karyawan lebih banyak. Kuadran B mampu mengumpulkan orang-orang dalam kuadran E menjadi satu kesatuan yang solid dalam sebuah tim guna mencapai kesuksesan besar, dimana pada kuadran ini sistem sudah terbentuk untuk menjalankan bisnis. 

Kuadran I – Investor

Mereka biasa dikenal dengan sebutan The Richest 1% yang memiliki banyak bisnis pada skala kuadran B. Pada fase ini kuadran I tidak perlu lagi bekerja untuk mendapatkan uang, karena uang telah bekerja dengan sendirinya.


Referensi : 
1. Rich Dad, Poor Dad (Ditulis oleh Robert T. Kiyosaki)
2.https://www.joinan.co.id